<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Marketing Communication</title>
	<atom:link href="http://marcom.lecture.ub.ac.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://marcom.lecture.ub.ac.id</link>
	<description>Management Department Economic &#38; Business Faculty Universitas Brawijaya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 08:07:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>ANALISIS IKLAN PADA BEBERAPA MEDIA (Radio, TV dan Situs Portal)</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/04/10/analisis-iklan-pada-beberapa-media-radio-tv-dan-situs-portal/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/04/10/analisis-iklan-pada-beberapa-media-radio-tv-dan-situs-portal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 08:07:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>leila melati</dc:creator>
				<category><![CDATA[banner portal]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[iklan radio]]></category>
		<category><![CDATA[iklan tv]]></category>
		<category><![CDATA[marketing communication]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[media marketing]]></category>
		<category><![CDATA[trans 7]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/coretanela/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Analisis Iklan melalui berbagai Media Marketing 1. Stasiun radio Kalimaya Bhaskara FM (102,1 FM) Brand yang sering muncul: Pharos (produk kesehatan), Khong guan dan iklan Pajak. Iklan yang paling sering muncul berbentuk iklan spot dan adlibs. Radio KBFM telah bergabung dengan K*MPAS group, 3 iklan teratas di radio tersebut merupakan iklan kiriman dari pusat (jakarta). Sedangkan [...] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Analisis Iklan melalui berbagai Media Marketing</p>
<p><strong>1. Stasiun radio</strong></p>
<ul>
<li><strong>Kalimaya Bhaskara FM (102,1 FM)</strong></li>
</ul>
<p>Brand yang sering muncul: Pharos (produk kesehatan), Khong guan dan iklan Pajak. Iklan yang paling sering muncul berbentuk iklan spot dan adlibs. Radio KBFM telah bergabung dengan K*MPAS group, 3 iklan teratas di radio tersebut merupakan iklan kiriman dari pusat (jakarta). Sedangkan Brand selain kiriman pusat  disesuaikan dengan segmen audience radio KBFM yaitu anak muda. sehingga iklan yang ditempatkan di radio tersebut merupakan produk-produk yang memang ditujukan untuk anak muda</p>
<ul>
<li><strong>Kosmonita (95,4 FM)</strong></li>
</ul>
<p>Brand yang sering muncul : So Klin Smart White, sabun Giv white mutiara dan sabun pencuci piring Mama Lemon. Radio Kosmonita mem-<em>positioning</em>-kan radionya sebagai “Radio untuk perempuan matang, berwawasan dan gaya” jadi baik segi berita maupun program yang diperdengarkan ditujukan untuk perempuan yang seperti itu. Yang menjadi segmen audience radio kosmonita adalah perempuan dengan rentang usia 25 sampai 40 tahun. Sehingga iklan yang ditampilkan baik itu produk kosmetik dan <em>toiletries </em>serta produk pencuci baju pun disesuaikan dan merupakan produk yang digunakan oleh pelanggan potensial yaitu para audience radio tersebut.</p>
<ul>
<li> <strong>Radio Tidar Sakti (90,3 FM)</strong></li>
</ul>
<div>Radio Tidar sakti mempunyai segmen audience  dari kalangan menengah ke bawah, sehingga yang diperdengarkan adalah lagu-laguIndonesia dan lagu daerah, walupun begitu masih ada lagu mancenegara yakni lagu melayu serta lagu india.</div>
<div>Iklan produk yang sering ditayangkan adalah : Sentra pengobatan Sinsei, lembaga peminjaman kredit untuk usaha kecil dan Dealer motor Honda (Tiara Megah Indah Jaya Motor).</div>
<div>Penempatan beberapa iklan pada radio tersebut terbilang sesuai karena iklan yang ditawarkan memang ditujukan untuk masyarakat kelas menengah kebawah seperti pembiayaan kredit untuk usaha ataupun pembelian motor secara kredit.</div>
<div></div>
<div><strong>Efektifitas iklan Radio</strong> &#8211; satu tujuan dalam membuat iklan, yaitu menjual produk atau jasa yang diiklankan. Jika segmen sudah dapat terpilah dengan karakteristik audience dari masing-masing radio, yang kedua adalah target audience harus tertarik dan mengerti pesan yang kita sampaikan dalam iklan tersebut. Disitulah dibutuhkan kekreatifitasan dari para pemasar untuk membungkus iklannya dengan hal yang unik dan kreatif sehingga menarik perhatian audience.</div>
<div></div>
<p><strong>2. Website (Situs Portal) </strong></p>
<ul>
<li><strong>Detik.com</strong></li>
</ul>
<div><img class="size-medium wp-image-44 alignleft" src="http://blog.ub.ac.id/coretanela/files/2012/04/detik-300x164.jpg" alt="" width="300" height="164" /></div>
<p>Brand pada banner halaman depan: MasterCard, BCA, Transcorp, Garuda Indonesia, Chevron, Indosat dan HTC</p>
<p>Beriklan di detik.com merupakan salah satu pilihan media yang cukup efektif untuk produk-produk tertentu. Detik.com merupakan salah satu situs portal populer dikalangan netizen (masyarakat yang menggunakan internet), karena muncul pertama dengan slogan “Mengapa Menunggu Besok? Detik ini juga!”. Pembaca website portal detik.com pun berjumlah sangat banyak dan dari beragam kalangan, hal ini dapat dilihat dari trafficnya yang tinggi dan besarnya angka pageviews pada setiap laman yang ditampilkan di detik.com.</p>
<p>Untuk segmen pembaca, Detik.com menyasar banyak segmen yang dibagi sesuai topik/subweb berita mulai dari finance, gosip, otomotif dan lainnya. Sehingga pembaca terkotak-kotak dan memudahkan bagi perusahaan yang ingin mengiklankan produknya ataupun melakukan kegiatan promosi lainnya disesuaikan dengan target pasar yang dituju.</p>
<p>Contohnya pada halaman detikHOT yang memuat berita artis, banner yang ada dalam laman tersebut meliputi produk Rinso Cair, Bu Krim, Telkomsel Sosialita yang disesuaikan pembaca laman tersebut yaitu para ibu-ibu dan remaja putri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><strong>Kompas.com</strong></li>
</ul>
<div><a href="http://blog.ub.ac.id/coretanela/files/2012/04/kompas.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-45" src="http://blog.ub.ac.id/coretanela/files/2012/04/kompas-300x145.jpg" alt="" width="300" height="145" /></a></div>
<p>Banner : Indosat, Chevron, HSBC Amanah, Djarum Super MILD, Jayaboard</p>
<p>Portal Kompas.com memiliki segmen pembaca yaitu Segmen menengah ke atas, berpendidikan tinggi, dan berada pada usia produktif. Sehingga produk yang diiklankan di portal tersebut merupakan produk <em>lux</em>dan istimewa<em> </em>yang disesuaikan dengan para <a title="pembaca kompas" href="http://www.kompasiklan.com/kenapa" >pembaca kompas.com</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Iklan TV</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong><a href="http://blog.ub.ac.id/coretanela/files/2012/04/logo-trans-7-seputargresik-co-cc.jpg"><img class=" wp-image-46 aligncenter" src="http://blog.ub.ac.id/coretanela/files/2012/04/logo-trans-7-seputargresik-co-cc.jpg" alt="" width="447" height="151" /></a></strong></p>
<p>Diambil pada tanggal 8 April 2012 (Minggu)</p>
<ul>
<li><strong>Jam 06.00-07.00</strong></li>
</ul>
<p>Acara jam 06.00-06.30 <strong>Sport 7</strong> yang menyajikan berita olahraga mulai dari  Liga Inggris, Liga Champion<strong>,</strong>  piala dunia,  MotoGP, serta cabang olah raga lainnya serta <em>sport lifestyle </em>yang diminati berbagai kalangan pria. Acara ini memiliki tagline &#8220;<em>When sport is more than news&#8221;. </em>brand yang banyak muncul di sela-sela acara ini adalah Mizone, im3, Shell Helix dan produk lainnya yang sejenis yang berhubungan dengan penonton acara ini yaitu pria baik remaja maupun dewasa.</p>
<p>Acara jam 06.30-07.00 yaitu <strong>Redaksi Pagi </strong>yang menyajikan berita baik dari dalam dan luar negeri yang lugas dan unik. Iklan yang sering muncul di sela acara ini beragam seperti Sophie Paris, Manulife, Tim Tam, Indosat, KI-KO dan produk lainnya. hal ini sesuai dengan segmen penonton acara Redaksi Pagi yaitu semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan para orang tua, baik perempuan maupun pria.</p>
<ul>
<li><strong>Jam 18.00-20.00</strong></li>
</ul>
<div>Pada jam ini, acara <strong>Hitam Putih, On The Spot </strong>dan <strong>Opera Van Java </strong>ditayangkan yang merupakan <em>prime time</em>. Iklannya semakin beragam, acara-acara yang ditayangkan tersebut merupakan tayangan keluarga sehingga penonton dari acara tersebut pun beragam. Bahkan, tayangan tersebut merupakan tayangan unggulan dari trans7 yang disukai banyak pemirsa TV dan memiliki rating tinggi. Brand iklan yang sering muncul adalah Tropicana Slim, Dell, Bebelac, Biskuat, Nourish Skin serta banyak lagi. Hal yang menjadi alasan penggunaan waktu ini oleh perusahaan adalah acara yang disisipi iklan mereka ditonton oleh ribuan bahkan jutaan pemirsa yang menjadi target pasar produk yang diiklankan.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Oleh : Leila Melati M (0910220127)</div>
<div>Mata Kuliah : <a href="http://marcom.lecture.ub.ac.id/">Marketing Communication</a></div>
<div>Dosen : Bapak <a href="http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id/">Nanang Suryadi, SE, MM</a></div>
<div></div>
<div>Sources :</div>
<div><a href="http://www.kosmonita.com/index.php">http://www.kosmonita.com/index.php</a></div>
<div><a href="http://www.trans7.co.id/frontend/home/view/158">http://www.trans7.co.id/frontend/home/view/158</a></div>
<div>cai.elearning.gunadarma.ac.id</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/04/10/analisis-iklan-pada-beberapa-media-radio-tv-dan-situs-portal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Analisis Iklan</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/megaprasada/2012/04/10/analisis-iklan/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/megaprasada/2012/04/10/analisis-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 05:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mega prasada putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[marcom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/megaprasada/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[1.Iklan Radio Tidar sakti FM Surya Beton Indonesia Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah masyrakat kalangan menengah kebawah yang membutuhkan bahan bangunan terutama beton dengan harga yang terjangkau Toko bagus.com (Otomotif) Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah masyarakat kelas menengah yang membutuhkan kendaraan baik motor atau mobil dengan kualitas yang baik namun dengan [...] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1.Iklan Radio</strong></p>
<p><strong>Tidar sakti FM</strong></p>
<p>Surya Beton Indonesia</p>
<p>Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah masyrakat kalangan menengah kebawah yang membutuhkan bahan bangunan terutama beton dengan harga yang terjangkau</p>
<p>Toko bagus.com (Otomotif)</p>
<p>Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah masyarakat kelas menengah yang membutuhkan kendaraan baik motor atau mobil dengan kualitas yang baik namun dengan harga lebih terjangkau dan kemdahan dalam bertransaksi.</p>
<p>Kopi ABC</p>
<p>Segmentasi dan targeting iklan ini adalah seluruh kalangan masyarakat penikmat kopi terutama yang berada di kota Malang</p>
<p><strong>RCB FM</strong></p>
<p>Lasegar</p>
<p>Segmentasi dan targeting dari iklan ini seluruh kalangan masyarakat baik bawah, menengah , maupun atas yang sedang mengalami panas dalam dan membutuhkan obat yang cepat meredakan sakit tersebut.</p>
<p>Kopi ya</p>
<p>Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah kalangan masyarakat kelas menengah bawah yang menyukai kopi instan cepat saji.</p>
<p>Obat batuk komix obh</p>
<p>Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah seluruh kalangan masyarakat yang membutuhkan obat untuk meredakan sakit batuk dengan harga yang relatif terjangkau.</p>
<p><strong>MFM</strong></p>
<p>Sosis so nice</p>
<p>Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah seluruh kalangan masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan anak-anak.</p>
<p>Mixagrip pegal linu</p>
<p>Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang sedang mengalami pegal linu dan membutuhkan obat untuk mengatasinya.</p>
<p>Jagat grosir hp jual beli hp baru bekas</p>
<p>Segmentasi dan targeting dari iklan ini adalah masyarakat kalangan menengah kebawah yang membutuhkan hp baru ataupun bekas dengan harga yang murah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.Iklan Banner</strong></p>
<p><strong>Detik.com :</strong> Hp HTC, Master Card dan Chevron</p>
<p><strong>Kompas.com :</strong> Djarum Super MLD, Indosat, Chevron</p>
<p>Kaitan dengan efektifitas iklan :</p>
<p>Iklan Banner di internet ini terbilang cukup efektif, hal ini dikarenakan saat ini mobilitas konsumen sangat tinggi sehingga tidak sempat untuk membeli dan membaca koran setiap hari. Saat ini banyak yang membaca berita-berita secara online karena media ini lebih praktis dan dapat diakses dimana saja. Dengan menempatkan iklan di media online tersebut secara otomatis pembaca akan melihat banner tersebut secara terus menerus sehingga dapat menumbuhkan minat beli konsumen terhadap suatu produk.</p>
<p><strong>3.Iklan Televisi</strong></p>
<p>Jam 6-7 pagi : Kopi Kapal Api dan Energen</p>
<p>Jam 6-8 malam : Aqua, Honda Vario</p>
<p>Yang melandasi keputusan untuk memasang iklan pada jam tersebut adalah :</p>
<p>Untuk kopi kapal api dan energen didasarkan pada waktu penggunaan secara umum oleh konsumen dalam mengkonsumsi produk tersebut. Sedangkan untuk aqua dan Honda vario yang sering muncul pada jam prime time didasarkan pada kapasitas perusahaan yang tergolong perusahaan besar dan cukup mempunyai nama sehingga mereka ingin mempertahankan bahkan meningkatkan pangsa pasar mereka dengan menaruh iklan di jam tersebut, dimana pada jam itulah terdapat jumlah penonton televisi terbesar dalam satu hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/megaprasada/2012/04/10/analisis-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MARKETING COMMUNICATION(PENEMPATAN IKLAN DI TV,RADIO, DAN INTERNET)</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/dewiharmilasari/2012/04/10/marketing-communicationpenempatan-iklan-di-tvradio-dan-internet/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/dewiharmilasari/2012/04/10/marketing-communicationpenempatan-iklan-di-tvradio-dan-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 04:13:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewi harmila sari</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/dewiharmilasari/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[ 3 Stasiun Radio Radio Mas FM/ 104,5 FM: -          Obat sakit kepala PARAMEX -          Kripik tempe beraneka rasa &#8221; Kembar Putra &#8221; -          Madu Asli Keluarga H. Rodi,papah biru no 24 Malang. Radio Cosmonita FM/ 95,4 FM: -          Sabun NUVO FAMILY -          CEREBROVIT  GOLD, untuk tumbuh kembang anak -          Sabun colek WINGS BIRU N WINGS [...] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li><strong> </strong><strong><span style="text-decoration: underline">3 Stasiun Radio</span></strong></li>
</ol>
<p>Radio Mas FM/ 104,5 FM:<strong></strong></p>
<p>-          Obat sakit kepala PARAMEX</p>
<p>-          Kripik tempe beraneka rasa &#8221; Kembar Putra &#8221;</p>
<p>-          Madu Asli Keluarga H. Rodi,papah biru no 24 Malang.</p>
<p>Radio Cosmonita FM/ 95,4 FM:</p>
<p>-          Sabun NUVO FAMILY</p>
<p>-          CEREBROVIT  GOLD, untuk tumbuh kembang anak</p>
<p>-          Sabun colek WINGS BIRU N WINGS PUTIH, dahsyat 1 untuk semua.</p>
<p>Radio Mandala FM Banyuwangi :</p>
<p>-          Motor TVS</p>
<p>-          Salep Kulit Cap 38</p>
<p>-          So Nice</p>
<p>Dari beberapa iklan dalam stasiun radio tersebut, dapat digambarkan bahwa pada segmentasi demografinya mengarah pada masyarakat yang rata-rata telah berkeluarga dan produk yang dijual kebanyakan produk lokal,misalnya kripik tempe atau produk yang mudah didapatkan di daerah tersebut. Masyarakat yang ditargetkan dengan iklan dalam radio tersebut adalah tingkat menengah ke bawah dan bukan tipe yang merupakan pemerhati suatu produk,sehingga perlu dibarengi dengan lagu-lagu atau kata-kata yang menarik.</p>
<p><strong>2.      </strong><strong><span style="text-decoration: underline">Banner Iklan</span></strong></p>
<p>-          Detik.com</p>
<p>Banner yang sering muncul rata-rata mengenai grosir baju Online,paket promo produk sepeda motor(Toyota), jasa penawaran pemesanan hotel, misalnya Atoll Paradise,dll.</p>
<p>-          Kompas.com</p>
<p>Banner yang sering muncul, misalnya penawaran Kredit Pemilikan Rumah, Jarum Super Mild, Gramediashop, Smartphone HTC</p>
<p>Keefektifitasan dari iklan yang dipasang di Internet tersebut menurut saya tergantung pada bagaimana tingkat kenaikan permintaan terhadap produk tersebut setelah penayangan iklan tersebut. Apabila dilihat dari perkembangan teknologi saat ini, banner iklan tersebut mungkin cukup efektif, karena semakin banyak orang yang mulai menggunakan internet untuk mencari informasi yang diinginkan. Apabila media promosi melalui banner iklan termasuk media yang murah dibandingkan dengan media promosi yang lainnya.<strong></strong></p>
<p><strong>3.      </strong><strong>Iklan Televisi</strong></p>
<p>-          Iklan Televisi pada pagi hari</p>
<p>Biasanya iklan yang muncul pada jam 06.00 – 07.00 adalah iklan yang berhubungan dengan kebutuhan keluarga dengan tema yang ringan. Selain itu, biasanya keputusan untuk beriklan di pagi hari, disesuaikan dengan program TV yang ditayangkan. Misalnya, pada Global TV yang pada pagi hari menayangkan acara- acara kartun. Biasanya iklan yang muncul adalah iklan yang ditargetkan bagi anak-anak dan bersifat ringan,misalnya Kodomo, Gery Chocolatos, Shampo anak-anak.</p>
<p>-          Iklan televisi di malam hari</p>
<p>Biasanya produk yang diiklankan pada jam 18.00-20.00 adalah produk yang telah memiliki brand image yang bagus,misalnya Pepsodent, Myzone,Chitato, Pantene, Clear,dll. Produk tersebut rata-rata menampilkan iklannya untuk menggambarkan citra dari produk tersebut.  Selain itu, iklan yang dibuat targetnya pada semua kalangan baik anak-anak maupun dewasa karena pada malam hari, penikmat televisi lebih banyak dari pada waktu lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/dewiharmilasari/2012/04/10/marketing-communicationpenempatan-iklan-di-tvradio-dan-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tugas 5. Iklan yang intens keluar saat pukul 6-7 pagi dan malam,radio, dan banner online</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/2012/04/09/tugas-5-iklan-yang-intens-keluar-saat-pukul-6-7-pagi-dan-malamradio-dan-banner-online/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/2012/04/09/tugas-5-iklan-yang-intens-keluar-saat-pukul-6-7-pagi-dan-malamradio-dan-banner-online/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 13:40:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antonius Budiman</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Radio: iklan jahe keraton, merupakan iklan yang paling sering muncul di radio ch.90.0FM Mas FM. Dengan banyaknya pendengar radio di daerah Malang yang sebagian besar adalah masyarakat pedagang(pasar) Malang yang punya hawa dingin, maka jahe keraton mensegmentasi pasar kelas menengah ke bawah yang mana mereka menyediakan minuman anti masuk angin yang terbuat dari jahe asli. [...] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Radio:<br />
<a href="http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/files/2012/04/jahe-keraton.jpeg"><img src="http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/files/2012/04/jahe-keraton.jpeg" alt="" width="197" height="255" class="alignnone size-full wp-image-31" /></a></p>
<p>iklan jahe keraton, merupakan iklan yang paling sering muncul di radio ch.90.0FM Mas FM. Dengan banyaknya pendengar radio di daerah Malang yang sebagian besar adalah masyarakat pedagang(pasar) Malang yang punya hawa dingin, maka jahe keraton mensegmentasi pasar kelas menengah ke bawah yang mana mereka menyediakan minuman anti masuk angin yang terbuat dari jahe asli. Saya mengatkan, promosi yang dilakukan jahe keraton berhasil sesuai dengan segmentasi mereka.</p>
<p>Banner Online<br />
:<a href="http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/files/2012/04/axis.jpeg"><img src="http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/files/2012/04/axis.jpeg" alt="" width="276" height="182" class="alignnone size-full wp-image-32" /></a></p>
<p>saya mengambil banner dari sebuah site terkenal, yaitu kaskus. Di sana terpampang iklan yang menancap di atas, dan iklan tersebut adalah: AXIS. Axis mensegmen kan pasarnya kepada kawula muda(yang sering mencari data ataupun forum di kaskus), dan pedagang(forum jual beli). Axis menawarkan berbagai promo nya, mulai dari internet murah(yang utama) sampai promo handphone mereka(agak jarang). Axis mengutamakan iklan internet murah, karena mereka tahu para pengguna kaskus membutuhkan layanan internet yang cepat namun murah, yang mana hal tersebut sesuai dengan keadaan kantong kawula muda. Dan, berdasarkan analisis kacamata saya, hal tersebut tepat guna, karena pengguna pasti melihat, dan terbukti dengan banyaknya teman-teman saya yang beralih dari provider GSM seperti telko*sel,*L,I*3,dll ke Axis.</p>
<p>Televisi 6-7 pagi:<br />
<a href="http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/files/2012/04/dee.jpeg"><img src="http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/files/2012/04/dee-300x163.jpg" alt="" width="300" height="163" class="alignnone size-medium wp-image-33" /></a></p>
<p>iklan pagi hari di identikkan dengan anak kecil,mengapa? karena anak kecil jaman sekarang sangat suka melihat TV sebelum mereka berangkat ke sekolah. Hal ini bisa dilihat dari acara-acara di antara pukul 6-7 pagi, yang mana menampilakn kartun-kartun seperti spongebob,chalkzone,dll. Dee-dee, yang merpakan produk kebersihan diri untuk anak kecil melihat jam tesebut untuk mengeluarkan iklan mereka agar anak kecil yang melihat tertarik dan meminta orang tua mereka untuk membelikan produk itu untuk mereka. Marketing Communication mereka bisa dikatakan tepat guna dan berhasil.</p>
<p>Televisi 6-7 malam:<br />
<a href="http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/files/2012/04/mio.jpeg"><img src="http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/files/2012/04/mio.jpeg" alt="" width="240" height="180" class="alignnone size-full wp-image-34" /></a></p>
<p>ya,iklan sepeda motor adalah yang paling sering keluar di jam-jam ini. hal tersebut bertepatan dengan hadirnya acara-acara untuk anak muda(film serial) dan berita, dan waktu itu sendiri adalah waktu dimana anak kuliahan dan orang bekerja sudah pulang dan beristirahat. Pabrikan sepeda motor ingin mepromosikan produk mereka yang dengan genre motor matic dll. Jika kita lihat,kebanyakan pengguna sepeda motor di jalan raya, adalah mereka-mereka yang berumur 17tahun-35 tahun. Pabrikan sepeda motor, mampu menstimulasi masyarakat untuk mencari produk mereka, dan segmentasi pun dapat di capai.</p>
<p>nb: untuk iklan televisi, tergantung kepada channel yang dilihat. Misal,Gl*bal TV di jam tersebut menampilkan kartun, tetapi di SC*V mengeluarkan berita. Maka dari itu, penulis dalam hal ini mengambil data dari channel Gl*bal TV dan RC*I. Dan juga bergantung pada kerjasama antara produsen dengan pihak penyiar itu sendiri, karena ada juga iklan yang tidak pernah ada di salah satu channel yang penulis simpulkan karena tidak adanya kerjasama antara dua belah pihak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/antoniusbudiman/2012/04/09/tugas-5-iklan-yang-intens-keluar-saat-pukul-6-7-pagi-dan-malamradio-dan-banner-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marketing Communication</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/andreasbudiarto/2012/04/09/marketing-communication-2/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/andreasbudiarto/2012/04/09/marketing-communication-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 05:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andreas budiarto</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/andreasbudiarto/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian Tentang Iklan Para akademisi dan manajer pemasaran internasional sama-sama telah berjuang mengenai masalah standarisasi program periklanan (Onkvisit dan Shaw, 1999). Namun, perdebatan mengenai apakah akan menstandarisasi atau melokalisasi belum berakhir. Para pendukung standarisasi berpendapat bahwa dalam pasar dunia yang konsumennya semakin homogen, adalah mungkin bagi perusahaan untuk menstandarisasi program periklanan dan pesan di seluruh [...] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penelitian Tentang Iklan</strong></p>
<p>Para akademisi dan manajer pemasaran internasional sama-sama telah berjuang mengenai masalah standarisasi program periklanan (Onkvisit dan Shaw, 1999). Namun, perdebatan mengenai apakah akan menstandarisasi atau melokalisasi belum berakhir. Para pendukung standarisasi berpendapat bahwa dalam pasar dunia yang konsumennya semakin homogen, adalah mungkin bagi perusahaan untuk menstandarisasi program periklanan dan pesan di seluruh negara (Levitt, 1983; Ohmae, 1989). Sebaliknya, kritikus standardisasi secara konsisten berpendapat untuk kasus adaptasi, mereka melihat hambatan ekonomi, politik, dan budaya mendorong terjadinya adaptasi setiap program iklan untuk produk yang dipasarkan secara global (Sorenson dan Weichmann, 1975; Quelch dan Hoff, 1986; Angin, 1986). Beberapa kritikus menyatakan bahwa konsumen cenderung merespon dengan baik untuk iklan yang pesan iklannya sesuai dengan budaya mereka (Zhang dan Gelb, 1996; Belk et al, 1985; Boddewyn et al, 1986; Buzzel, 1968; Harris, 1984; Hornik, 1980) sehingga memahami budaya lokal dan menyesuaikan iklan yang mencerminkan nilai-nilainya sering dianggap prasyarat untuk iklan internasional yang sukses (Keegan, 1989). Sejumlah penelitian menemukan bahwa iklan yang mencerminkan beberapa nilai-nilai budaya lokal lebih persuasif daripada yang mengabaikannya (Gregory dan Munch, 1997; Han dan Shavitt, 1994; Hong et al, 1987; Madden dkk, 1986; Marquez, 1975; Taylor et al, 1997).</p>
<p>Untuk mempelajari isi iklan lintas budaya yang berbeda, sebagian besar peneliti telah mencoba memasangkan negara-negara untuk menguji beberapa perbedaan nilai yang dinyatakan dalam iklan. Pasangan tersebut biasanya antara Amerika Serikat dan negara asing seperti Jepang (Hong dkk, 1987; Javalgi et al, 1995; Mueller, 1987, 1992), dunia Arab (Al-Olayan dan Karande, 2000), Korea (Cho et al, 1999; Taylor et al, 1997), Cina (Zhou et al, 2005; Zhang dan Gelb, 1996; Lin, 2001), Inggris (Katz dan Lee, 1992), Polandia (Lepkowska-White dkk, 2003) atau dalam sekelompok negara (Zandpour et al, 1992; Tai, 1997; Albers-Miller dan Gelb, 1996). Peneliti telah menganalisis bahwa banyak dari konten iklan lintas budaya dalam majalah atau televisi berdasarkan pada nilai-nilai budaya pasar lokal. Selain itu, mayoritas dari studi konten periklanan (Biswas et al, 1992; Mueller, 1992; Roth, 1992; Zhou et al, 2005; Kim et al, 1998) telah menggunakan karya-karya dari teori nilai budaya Hall dan Hall (1987) dan teori dimensi budaya Hofstede (1980) (Albers-Miller dan Gelb, 1996; Chiou, 2002; Lepkowska-White dkk, 2003; Lin, 2001; Cho et al, 1999; Zhang dan Gelb, 1996).</p>
<p><em>Nilai-Nilai Budaya</em></p>
<p>Budaya adalah kepribadian suatu masyarakat. Hofstede (1980, p 19) mendefinisikan budaya sebagai: &#8220;agregat karakteristik umum yang mempengaruhi respon kelompok terhadap lingkungannya.&#8221; Menurut beberapa peneliti, nilai-nilai budaya adalah penting untuk memahami perilaku konsumen (Munson dan McIntyre, 1979; Carman, 1978; Vinson et al, 1977). Penggunaan nilai-nilai budaya lokal adalah untuk memahami efektivitas media yang telah diteliti sejak awal 1960-an. Misalnya, Singh dan Huang (1962) menemukan bahwa iklan cetak Amerika Serikat tidak efektif di India karena daya tarik iklan berlawanan dengan nilai-nilai budaya lokal. Penelitian lain yang berfokus pada budaya Barat dan Timur juga menemukan bahwa sebagian besar isi iklan dengan nilai-nilai lokal yang kuat ditemukan dalam negara-negara Timur (Belk et al, 1985; Belk dan Pollay, 1985; Belk dan Bryce, 1986; Lin, 2001; Zhou et al., 2005). Cheng dan Schweitzer (1996) menganalisis isi lebih dari 1.000 iklan televisi Cina dan Amerika Serikat dan mengidentifikasi tujuh nilai-nilai budaya (keluarga, teknologi, kenikmatan, individualisme, ekonomi, modernitas dan pemuda) yang mendominasi baik di iklan televisi Cina atau Amerika Serikat. Para peneliti menemukan bahwa iklan yang menggambarkan nilai-nilai budaya simbolik lebih dominan ditemukan di iklan Cina daripada di Amerika Serikat. Di dunia Arab, Al-Olayan dan Karande (2000) menemukan bahwa fitur iklan dalam majalah Arab lebih sedikit dari iklan Amerika Serikat, dan perempuan yang digambarkan dalam iklan majalah Arab, cenderung memakai pakaian yang panjang dan tertutup. Studi lain mengenai konten iklan di berbagai negara juga dilakukan oleh Zandpour dkk. (1994). AlphaStudi ini memeriksa pesan iklan televisi di Amerika Serikat, Meksiko, Perancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Korea Selatan dan Taiwan. Mereka menemukan perbedaan dalam strategi kreatif iklan, informasi dan gaya di antara negara-negara ini, yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan nilai-nilai budaya dan lingkungan periklanan negara tersebut, misalnya, pengeluaran per kapita, peraturan pemerintah, ketersediaan jeda komersial dan personil iklan.</p>
<p>Hall (1976) sendiri dalam teori nilai budayanya menggambarkan masyarakat ke dalam dua konteks budaya yaitu konteks budaya tinggi dan konteks budaya rendah. Dalam konteks budaya tinggi, sangat sedikit informasi yang ada dalam pesan berkode karena sebagian besar informasi telah digunakan bersama-sama oleh anggota masyarakat. Dalam konteks budaya rendah, informasi massa tertanam secara eksplisit dalam pesan komunikasi. Hall dan Hall (1990) menggambarkan Amerika, Jerman, dan negara-negara Eropa utara memiliki konteks budaya yang rendah, sementara Korea, Jepang, Taiwan, Cina, dan Eropa bagian selatan adalah negara dengan konteks budaya yang tinggi. Tipologi dimensi budaya Hofstede (1980, 1983) yang diadopsi oleh para ahli menjelaskan perbedaan lintas budaya dalam iklan (Albers-Miller dan Gelb, 1996; Taylor et al, 1997; De Mooij, 1998). Karya Hofstede menggambarkan empat dimensi budaya: individualisme/kolektivisme, jarak kekuasaan, mencegah ketidakpastian, dan maskulinitas/femininitas dan kemudian dimasukkan dalam orientasi jangka pendek/panjang (Hofstede, 1991). An dan Kim (2006) menelaah dua teori budaya dan mengusulkan bahwa konteks budaya Hall (1976) dan dimensi budaya Hofstede (1984) sangat relevan untuk studi iklan dalam lingkungan lintas budaya. Secara umum, konsumen dari konteks budaya tinggi yang cenderung kolektif lebih kritis terhadap iklan yang bersifat ofensif seperti produk-produk yang berorientasi seksual, serta iklan produk yang mungkin memiliki dampak negatif daripada konsumen dari konteks budaya rendah yang individualistik. Hal ini didukung oleh Shao dan Hill (1994) yang berpendapat bahwa masyarakat dengan konteks budaya tinggi lebih mengandalkan norma-norma sosial dalam membatasi komunikasi pemasaran dibandingkan hukum dan peraturan yang eksplisit. Analisis peraturan untuk iklan produk yang sensitif secara sosial didukung hipotesis bahwa iklan ofensif untuk produk yang berorientasi seksual lebih ketat dikontrol oleh peraturan dalam negara-negara dengan konteks budaya tinggi daripada di negara-negara dengan konteks budaya rendah.</p>
<p>Meskipun banyak literatur telah meningkatkan pemahaman kita tentang perbedaan lintas budaya dalam konten iklan, beberapa studi telah meneliti periklanan lintas budaya seperti kesukaan. Lebih khusus, mengingat perbedaan dalam nilai-nilai budaya yang dianggap berasal dari Hall (1976) dan Hofstede (1980), penting untuk bertanya apakah ada perbedaan kesukaan dalam iklan? Mengetahui apa yang konsumen sukai dalam komunikasi adalah penting, iklan yang diberi upaya pengolahan mental yang lebih besar akan menyebabkan pembelian produk yang diiklankan (Walker, 1990; Thorson, 1991; Franzen, 1994; Walker dan Dubitsky, 1994; Hollis, 1995). Seperti yang disarankan oleh Biel dan Bridgwater (1990, p 38) kesukaan memang memiliki efek persuasif, karena langsung dapat mempengaruhi perasaan terhadap sebuah merek dalam iklan, yaitu kita lebih cenderung menyukai merek yang cara pengiklanannya menggunakan proses pengkondisian sederhana. Dalam studi mereka terhadap iklan televisi Amerika Serikat, Biel dan Bridgwater (1990) mengidentifikasi lima dimensi menyenangkan yaitu kecerdikan, kebermaknaan, energi, kehangatan, dan menghapus cara yang salah. Mereka menyimpulkan bahwa kontribusi keseluruhan masing-masing dimensi menjelaskan kesukaan dalam iklan untuk kategori produk yang satu dengan lainnya berbeda. Aaker dan Stayman (1990) juga melakukan studi yang sama yang mencakup 80 iklan, dan datang dengan temuan identik seperti Biel dan Bridgwater (1990). Walaupun penelitian sebelumnya telah membentuk berbagai dimensi periklanan seperti kesukaan dan menunjukkan adanya hubungan diantara periklanan seperti kesukaan dan kinerja konsekuen, tapi masih sangat sedikit yang memeriksa apakah iklan yang menyenangkan dapat sama-sama efektif di berbagai negara (lintas batas).</p>
<p><em>Perbandingan Jenis Produk dan Iklan</em></p>
<p>Jones (2000) mengatakan bahwa walaupun kebutuhan konsumen di setiap benua sama, namun mereka berbeda dalam cara menggolongkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan ini. Laskey dkk. (1994) menemukan bahwa gaya eksekusi periklanan tidak berdampak pada efektivitas komersial, tapi suatu gaya yang efektif adalah yang cenderung berbeda untuk tiap kategori produk yang diiklankan. Untuk produk baru, Lepkowska-White et al. (2003) menyatakan bahwa iklan harus disesuaikan dengan jenis produk. Hal ini karena jenis &#8220;pencarian informasi&#8221; yang dilakukan oleh konsumen berkaitan erat dengan jenis produk pemuas kebutuhan. Misalnya, Johar dan Sirgy (1991) menemukan bahwa untuk konsumen yang sangat terlibat dengan suatu produk, informasi utilitarian lebih efektif, dan bagi konsumen yang tidak terlibat dengan produk, nilai iklan ekspresif lebih persuasif. Misalnya, Ratchford (1987) menyatakan bahwa informasi utilitarian dibutuhkan untuk produk seperti rumah, peralatan besar dan mobil yang sangat penting bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan konsumsi. Dengan demikian, informasi tentang kualitas dan harga perlu dinilai dan dipertimbangkan. Untuk barang afektif seperti mobil sport, perhiasan dan pakaian fashion, yang memenuhi ego, kepuasan, dan ekspresi diri, informasi emosional lebih sering dicari oleh konsumen. Dalam kasus produk pemuas kebutuhan yang sering dipakai sehari-hari (makanan/minuman, rokok, alat-alat kecantikan, dan obat-obatan), Ratchford (1987) telah menyarankan memberikan informasi heuristik, karena informasi yang dibutuhkan konsumen untuk jenis barang ini rendah. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan jenis produk dan iklan, Lepkowska-White et al. (2003) menemukan bahwa konsumen Amerika Serikat lebih suka iklan fungsional daripada konsumen Polandia. Para peneliti juga menyatakan bahwa konsumen Amerika Serikat lebih mengembangkan sikap positif terhadap iklan dengan daya tarik individualistis daripada daya tarik kolektivis.</p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p>Charles R. Taylor, Mary Anne Raymond, (2000<strong>),&#8221;An analysis of product category restrictions in advertising in four major East Asian markets&#8221;</strong>, International Marketing Review, Vol. 17 Iss: 3 pp. 287 – 304.</p>
<p>Jonathan E. Schroeder, Janet L. Borgerson, (2005),<strong>&#8220;An ethics of representation for international marketing communication&#8221;</strong>, International Marketing Review, Vol. 22 Iss: 5 pp. 578 – 600.</p>
<p>Robert Beckett, (2004),<strong>&#8220;Communication ethics: Principle and practice&#8221;</strong>, Journal of Communication Management, Vol. 8 Iss: 1 pp. 41 – 52.</p>
<p>Kara Chan, Lyann Li, Sandra Diehl, Ralf Terlutter, (2007),<strong>&#8220;Consumers&#8217; response to offensive advertising: a cross cultural study&#8221;</strong>, International Marketing Review, Vol. 24 Iss: 5 pp. 606 – 628.</p>
<p>Kim-Shyan Fam, Reinhard Grohs, (2007),<strong>&#8220;Cultural values and effective executional techniques in advertising: A cross-country and product category study of urban young adults in Asia&#8221;</strong>, International Marketing Review, Vol. 24 Iss: 5 pp. 519 – 538.</p>
<p>Stephen B. Knouse, Vanessa D. Hill, J. Brooke Hamilton III, (2007),<strong>&#8220;Curves in the high road: A historical analysis of the development of American business codes of ethics&#8221;</strong>, Journal of Management History, Vol. 13 Iss: 1 pp. 94 – 107.</p>
<p>Ernest Cyril de Run, (2007),<strong>&#8220;Ethnically targeted advertising: views of those not targeted&#8221;</strong>, Asia Pacific Journal of Marketing and Logistics, Vol. 19 Iss: 3 pp. 265 – 285.</p>
<p>John P. Foley, (1999),<strong>&#8220;Misplaced marketing commentary: Ethics in advertising: a report from the Pontifical Council for Social Communications&#8221;</strong>, Journal of Consumer Marketing, Vol. 16 Iss: 3 pp. 220 – 223.</p>
<p>Ali M. Kanso, Richard Alan Nelson, (2007),<strong>&#8220;Multinational corporations and the challenge of global advertising: What do US headquarters consider important in making media-selection decisions?&#8221;</strong>, International Marketing Review, Vol. 24 Iss: 5 pp. 563 – 590.</p>
<p>Svante Andersson, Anna Hedelin, Anna Nilsson, Charlotte Welander, (2004),<strong>&#8220;Violent advertising in fashion marketing&#8221;</strong>, Journal of Fashion Marketing and Management, Vol. 8 Iss: 1 pp. 96 – 112.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nama:<a href="http://blog.ub.ac.id"> Andreas Budiarto</a></p>
<p>Dosen: <a href="http://nanangsuryadi.web.id">Nanang Suryadi SE., MM.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/andreasbudiarto/2012/04/09/marketing-communication-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MARKETING COMMUNICATION</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/wignyunegoro/2012/04/09/marketing-communication-2/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/wignyunegoro/2012/04/09/marketing-communication-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 05:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wignyu Negoro</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/wignyunegoro/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[PENELITIAN TENTANG IKLAN Dunia ini menjadi tempat pasar yang umum di mana orang-orang, di mana pun mereka hidup, menginginkan produk dan gaya hidup yang sama, seperti dikemukakan oleh Levitt (1983). Hal ini menyebabkan untuk berpikir mengubah dunia menjadi tempat pasar homo-cultural. Pelanggan dapat dibujuk oleh iklan yang menarik dengan nilai yang sama, terlepas dari budaya [...] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PENELITIAN TENTANG IKLAN</strong></p>
<p>Dunia ini menjadi tempat pasar yang umum di mana orang-orang, di mana pun mereka hidup, menginginkan produk dan gaya hidup yang sama, seperti dikemukakan oleh Levitt (1983). Hal ini menyebabkan untuk berpikir mengubah dunia menjadi tempat pasar homo-cultural. Pelanggan dapat dibujuk oleh iklan yang menarik dengan nilai yang sama, terlepas dari budaya mereka milik. Merek dan citra merek bisa menjadi standar tanpa masalah di seluruh negara. Hal ini bisa mengakibatkan penghematan yang signifikan dalam memproduksi iklan. Menurut Dahl (2005), hal tersenut juga dapat menyebabkan penghematan waktu dan uang dalam hal biaya desain. Sebagian besar perusahaan multinasional merasa bahwa merek internasional harus menciptakan citra global. Konsumen dalam posisi budaya global (melalui serangkaian simbol yang diakui) dapat meningkatkan iklan yang bermakna (Alden dkk., 1999). Standar iklan dengan berdasarkan segmen multi-budaya dapat diimplementasikan (Gram, 2007). Iklan global terutama ditemukan dalam produk mewah, kosmetik, parfum dan jam tangan (Belche dan Belche, 1998).</p>
<p>Tren terbaru dalam ekonomi global telah mengubah isi budaya kampanye iklan. Oleh karena itu, multikulturalisme dapat menjadi pendekatan yang baik untuk periklanan global. Memahami perbedaan budaya dapat menyebabkan iklan akan berhasil (Keegan, 2008). Namun, pengiklan harus memilih sejauh mana untuk mengglobalisasikan atau melokalisasi pesan mereka. Menyeimbangkan standardisasi dan adaptasi budaya bisa menjadi faktor kunci bagi keberhasilan periklanan global. Dengan memahami setiap variasi etnis dan budaya dapat membantu untuk memiliki efektivitas iklan yang baik.</p>
<p>Hindu dan Kristen adalah relatif lebih cenderung untuk iklan global dibandingkan dengan Muslim. Agama memainkan peran dalam penerimaan iklan global. Kristen (52 persen) lebih cenderung terhadap iklan global ketika dibandingkan dengan Hindu (42 persen) dan Muslim (45 persen). Ini adalah sebuah kejutan dimana Muslim yang dianggap lebih konservatif. Umur juga mempengaruhi persepsi. Kelompok usia yang lebih tua tidak memiliki tingkat persepsi yang tinggi terhadap iklan global. Budaya individualis dan kolektivis memang memiliki respon yang sama terhadap iklan global dan tidak ada perbedaan yang signifikan. Pendidikan tinggi dapat menyebabkan penerimaan yang lebih baik dari produk dalam negeri. Dengan demikian, pendidikan dapat mempengaruhi persepsi seseorang.</p>
<p>Seruan emosional adalah efektif bila layanan iklan dan yang lainnya lebih spesifik, efektif ketika layanan iklan mengandung layanan eksperimental dan utilitarian. Hal ini akan menunjukkan bahwa konsumen tidak perlu alasan rasional atau logis untuk memilih layanan pembelian. Sebaliknya mereka sedang dipengaruhi oleh seruan seperti tradisi, afiliasi dan kekhasan. Iklan yang efektif umumnya mengandung dokumentasi yang sangat sedikit. Hal ini dicapai dengan :</p>
<ol start="1">
<li>Menghadirkan representasi fisik seperti buku, cek atau kendaraan perusahaan.</li>
<li>Memperlihatkan pertemuan layanan atau penyedia layanan tersebut, terutama di mana pertemuan itu bersifat pribadi. Tangibilisation layanan jelas membutuhkan pengolahan dari potongan dokumentasi dan sejalan dengan pendekatan emosional yang diadopsi.</li>
</ol>
<p>Iklan hanya akan bertahan dan berkembang menjadi efektif jika fokus. Semua pengiklan mengharapkan hasil tertentu berdasarkan tujuannya masing-masing. Klien mengharapkan bukti dan untuk sebagian besar bukti yang harus menyebabkan atau benar-benar menghasilkan penjualan (Richard Vaughan, 1986). Iklan harus efektif dan mencapai tujuannya. Setiap iklan bisa dibuat efektif hanya dengan tujuan yang jelas yang mendorong perencanaan, penciptaan, dan eksekusi. Iklan harus bekerja dengan bentuk-bentuk komunikasi pemasaran untuk menjangkau pelanggan. Hanya pengiklan dan biro iklan yang mendukung dan tahu apakah kampanye iklan mencapai tujuannya, dan apakah iklan benar-benar bernilai untuk uang yang diinvestasikan. Iklan yang efektif adalah iklan yang membantu pengiklan untuk mencapai tujuannya (Doyle &amp; Saunders, 1990).</p>
<p>Hubungan antara biro iklan dan perusahaan melibatkan tingkat interaktivitas yang tinggi. Karena iklan termasuk kategori layanan profesional, kedua pasangan perlu melakukan upaya untuk memperluas hubungan dan memastikan kepuasan. Jasa profesional ditandai oleh celah antara klien dan penyedia mengenai karakteristik layanan dan harapan klien. Dalam sebuah hubungan interaktif di mana dua aktor beroperasi di layanan aktivitas yang berbeda, di mana badan tersebut dipanggil untuk mengelola pengembangan dari relasi, perlu untuk menentukan peran masing-masing aktor sehingga untuk mengurangi risiko kegagalan. Putus hubungan selalu dapat menjadi kenyataan setiap saat dan hampir tidak pernah ada salah satu faktor tunggal yang bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.</p>
<p><strong>Sumber :</strong></p>
<p>Kathleen Mortimer, (2008), <em>&#8220;Identifying the components of effective service advertisements&#8221;</em>, Journal of Services Marketing, Vol. 22 Iss : 2 pp. 104 &#8211; 113</p>
<p>Rajesh Kumar Srivastava, (2010), <em>&#8220;Effectiveness of global advertisement on culture of India: an emerging market&#8221;</em>, International Journal of Emerging Markets, Vol. 5 Iss : 1 pp. 102 &#8211; 113</p>
<p>Lefa Teng, Michel Laroche, Huihuang Zhu, (2007), <em>&#8220;The effects of multiple-ads and multiple-brands on consumer attitude and purchase behavior&#8221;</em>, Journal of Consumer Marketing, Vol. 24 Iss : 1 pp. 27 &#8211; 35</p>
<p>Abdelfattah Triki, Nejla Redjeb, Istabrak Kamoun, (2007), <em>&#8220;Exploring the determinants of success/failure of the advertising agency-firm relationship&#8221;</em>, Qualitative Market Research: An International Journal, Vol. 10 Iss : 1 pp. 10 &#8211; 27</p>
<p>Helen Gabriel, Rita Kottasz, Roger Bennett, (2006), <em>&#8220;Advertising planning, ad-agency use of advertising models, and the academic practitioner divide&#8221;</em>, Marketing Intelligence &amp; Planning, Vol. 24 Iss: 5 pp. 505 – 527</p>
<p>W. Wossen Kassaye, 1997, <em>“Global advertising and the world wide web”</em>, Business Horizons  Volume 40 Issue 3 Pages 33-42</p>
<p>B.J. Moon, S.C. Jain, 2001, “<em>Consumer processing of foreign advertisements : roles of country-of-origin perceptions, consumer ethnocentrism, and country attitude”</em>, International Business Review 11 page 117–138</p>
<p>Andrey Mikhailitchenko, Rajshekhar (Raj) G. Javalgi, Galina Mikhailitchenko, Michel Laroche, 2007, <em>“Cross-cultural advertising communication: Visual imagery, brand familiarity, and brand recall”</em>, Journal of Business Research 62 page 931–938</p>
<p>V. Ramalingam, B. Palaniappan, N. Panchanatham, S. Palanivel, 2006, <em>“Measuring advertisement effectiveness—a neural network approach”</em>, Expert Systems with Applications 31 page 159–163</p>
<p>Fernando Fastoso, Jeryl Whitelock, 2009, <em>“Regionalization vs. globalization in advertising research: Insights from five decades of academic study”</em>, Journal of International Management 16 page 32–42</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nama : <a href="http://blog.ub.ac.id">Wignyu Negoro</a></p>
<p>Dosen : <a href="http://nanangsuryadi.wed.id">Nanang Suryadi, SE., MM.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/wignyunegoro/2012/04/09/marketing-communication-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Journal of Advertising Research</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/tomassetya/2012/04/08/journal-of-advertising-research/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/tomassetya/2012/04/08/journal-of-advertising-research/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 13:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tomas Setya Wahyu B</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/tomassetya/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Journal of Advertising Research Definisi Iklan Ada tiga istilah yang umum dipakai di indonesia untuk menyebut advertising, yaitu: reklame, advertensi, dan iklan.reklame berasal dari bahasa belanda yang dieja sebagai reclame.kata itu juga berasal dari bahasaperancis reclamare. Advertensi berasal dari bahasa belanda advertentie yang juga mengacu pada bahasa inggris advertising.Sedangkan iklan yang umum dipakai dalam bahasa [...] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Journal of Advertising Research</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>Definisi Iklan</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Ada tiga istilah yang umum dipakai di indonesia untuk menyebut advertising, yaitu: reklame, advertensi, dan iklan.reklame berasal dari bahasa belanda yang dieja sebagai reclame.kata itu juga berasal dari bahasaperancis reclamare. Advertensi berasal dari bahasa belanda advertentie yang juga mengacu pada bahasa inggris advertising.Sedangkan iklan yang umum dipakai dalam bahasa Melayu berasal dari bahasa Arab i&#8217;lan atau i&#8217;lanun secara harfiah berarti informasi. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Banyak definisi diberikan bagi kata ‘periklanan’, akan tetapi salah satu yang paling sederhana dengan harapan agar kita tidak berdebat soal ini. Periklanan adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan pembuat barang, atau pemasok jasa dengan masyarakat banyak atau sekelompok orang tertentu yang bertujuan untuk menunjang upaya pemasaran. Komunikasi dilakukan dengan menggunakan gambar, suara atau kata-kata, gerak atau bau yang disalurkan melalui media atau secara langsung. Berdasarkan pengertian ini maka ‘Biro Iklan’ adalah lembaga usaha yang memberikan jasa periklanan bagi siapa yang membutuhkan baik perorangan, perusahaan pembuat barang atau pemasok jasa bahkan pemerintah. Oleh karena bentuk pelayanan periklanan meliputi berbagai jenis kegiatan maka dilihat dari skala usahanya ada berbagai ukuran sebuah biro iklan. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Iklan bukanlah barang baru dalam sejarah perekonomian di Indonesia. Di Perpustakaan Nasional tersimpan bukti sejarah yang menunjukkan bahwa iklan telah ada sejak koran beredar di Indonesia lebih dari 100 tahun yag lalu (Renald Kasali, 1995: 7). Secara sederhana, menurut Rachmadi (1993: 36) iklan adalah pesan atau penawaran suatu produk atau jasa yang ditujukan kepada khalayak lewat media. Pemasang iklan menggunakan pesan itu untuk mendapatkan keuntungan yaitu dengan mempersuasikan calon konsumen sedemikian rupa sehingga calon konsumen akan melakukan apa yang diharapkan pemasang iklan, atau membeli produk atau jasa sesuai yang ditawarkan.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>Tujuan Iklan </strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Renald Kasali (1995: 159) menjabarkan tujuan suatu iklan yang dibangun atas empat komponen sebagai berikut. </span></span></p>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Aspek perilaku</em>, yakni tindakan-tindakan yang diharapkan pada calon pembeli seperti: pembelian percobaan, mengunjungi toko, mengambil percontoh, atau meminta info lebih lanjut. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Sikap yang diharapkan</em>. Hal ini menyangkut sikap atau keistimewaan produk. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Kesadaran</em>. Dalam pengembangan produk-produk baru di pasaran, merebut calon pembeli adalah tugas utama periklanan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Posisioning</em>, membentuk citra agar bisa diterima secara homogen. </span></span></p>
</li>
</ol>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Sedangkan Philip (dalam Darmadi, 2003: 9), tujuan periklanan dapat dilihat dari sudut pandang perusahaan. Tujuan periklanan ini berkaitan dengan sasarannya sebagai berikut. </span></span></p>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Iklan bertujuan untuk memberikan informasi (<em>informative</em>) kepada khalayak tentang seluk beluk suatu produk. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Iklan digunakan untuk membujuk (<em>persuasive</em>), dilakukan dalam tahap kompetitif. Dalam hal ini, perusahaan melakukan persuasi tidak langsung dengan memberikan informasi tentang kelebihan produk yang dikemas sedemikian rupa sehingga menimbulkan perasaan menyenangkan yang akan mengubah pikiran orang untuk melakukan tindakan pembelian. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Iklan bertujuan untuk mengingatkan (<em>reminding</em>), yaitu untuk menyegarkan informasi yang pernah diterima masyarakat. Iklan jenis ini bertujuan untuk meyakinkan pembeli sekarang bahwa mereka melakukan pilihan benar. </span></span></p>
</li>
</ol>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa iklan memiliki beberapa tujuan yaitu: memberikan informasi, membujuk, serta mengingatkan atas produk yang telah diiklankan. Perilaku dan perubahan sikap juga merupakan tujuan akhir atas penayangan sebuah iklan. Pembelian akan produk yang diiklankan menjadi harapan para pembuat iklan. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>Manfaat Iklan </strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Iklan memiliki beberapa manfaat bagi khalayak ramai. Menurut Dendi Sudiana (1986: 6) iklan bertujuan untuk memperkenalkan suatu produk atau membangkitkan kesadaran akan merk <em>(brand awareness), </em>citra merk <em>(brand image)</em>, citra perusahaan <em>(corporate image), </em>membujuk khalayak untuk membeli produk yang ditawarkan, memberikan informasi, dan lain-lain. Tujuan akhir komunikasi periklanan yang diharapkan tentunya untuk menciptakan respons perilaku di pasaran. Renald Kasali (1995: 16) mengemukakan manfaat iklan bagi pembangunan msyarakat dan ekonomi, sebagai berikut. </span></span></p>
<ol>
<ol type="a">
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Iklan memperluas alternatif bagi konsumen. Dengan adanya iklan, konsumen dapat mengetahui adanya berbagai produk, yang pada gilirannya menimbulkan adanya pilihan. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Iklan membantu produsen untuk menimbulkan kepercayaan bagi konsumennya. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Iklan membuat orang kenal, ingat, dan percaya. </span></span></p>
</li>
</ol>
</ol>
<p align="JUSTIFY"> <span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa iklan memiliki beberapa manfaat yaitu: memberikan pilihan untuk konsumen memilih beragam produk, membantu produsen memberikan kepercayaan kepada konsumen serta membuat konsumen mengenal lalu mengingat dan percaya akan produk yang diiklankan hingga akhirnya membeli produk tersebut. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Sebuah proses komunikasi akan dapat berjalan dengan baik dan lancar, apabila dalam pembuatan iklan mempertimbangkan elemen-elemen yaitu: </span></span></p>
<ol>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Atention </em>(perhatian): apa yang disajikan oleh pengiklan mampu menarik perhatian khalayak atau masyarakat misalnya bahasa yang digunakan atau produk barang tersebut manarik. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Interest </em>(minat): pengiklan hendaknya teliti membuat bagaimanakah minat masyarakat terhadap barang yang diiklankan. Hal ini didasarkan pada masa atau era yang ada pada saat itu. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Demand </em>(kebutuhan/keinginan): pengiklan mampu melihat kebutuhan atau keinginan masyarakat pada waktu itu. Apakah barang atau jasa yang ditawarkan sesuai dengan keinginan atau seperti apa yang diharapkan masyarakat. </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Action </em>(tindakan): iklan yang ditampilkan mampu mempengaruhi calon pembeli sehingga dengan sendirinya akan muncul tindakan konsumen untuk memutuskan apakah akan membeli atau tidak (Rachmadi, 1993: 34). </span></span></p>
</li>
</ol>
</ol>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Berdasarkan uraian di atas, dapat kita ketahui elemen-elemen apa saja yang harus dipertimbangkan, agar iklan yang dibuat merupakan proses komunikasi yang berjalan dengan baik dan lancar. Untuk maksud tersebut, pengiklan diharapkan dapat mengelaborasi berbagai elemen yang ada.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>Metode Penelitian</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">a. Metode yang digunakan untuk mengukur tingkat awareness iklan pada tahap posttesting kebanyakan melalui metode survey dengan menyebarkan kuesioner kepada beberapa responden. Selain mengukur tingkat awareness, juga untuk mengukur brand attribute, perceived quality, kejernihan dan pemahaman pesan, ketertarikan untuk menindaklanjuti pesan, dan sebagainya termasuk keserasian penempatan iklan di media, yang biasanya terangkum dalam sebuah kegiatan bernama consumer’s dipstick. Namun demikian, metode focus group discussion juga sering digunakan untuk penggalian informasi yang lebih dalam dari konsumen.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><span style="color: #000000">b. </span><span style="color: #000000">Teknik statistik yang akan dilakukan adalah </span><span style="color: #000000"><em>Goodness-of-Fit Test </em></span><span style="color: #000000">yang merupakan salah satu varian </span><span style="color: #000000"><em>Chi-Square Test</em></span><span style="color: #000000">. Tes ini berfungsi untuk menguji hipotesis dengan dua atau lebih kemungkinan ketegori. Eksperimen yang dimaksud ialah </span><span style="color: #000000"><em>multinomial experiment</em></span><span style="color: #000000">. Ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan pada </span><span style="color: #000000"><em>Goodness-of-Fit Test </em></span><span style="color: #000000">ini. </span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong><span style="color: #000000">c. </span></strong><span style="color: #000000">Efektifitas Iklan diukur dengan Metode Epic Model</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Efektivitas iklan dapat diukur dengan menggunakan Epic model, Darmadi Durianto</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">(2003). Epic model yang dikembangkan oleh AC Nielsen, salah satu perusahaan peneliti</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">pemasaran terkemuka di dunia, Epic Model dan mencakup empat dimensi kritis yaitu empati,</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">persuasi, dampak dan komunikasi (Empathy, Persuasion, Impact and communications – EPIC) berikut akan dipaparkan dimensi – dimensi dalam Epic model.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>Referensi Advertising Research</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Adapun beberapa referensi mengenai penelitian iklan di indonesia seperti berikut :</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">STUDI MENGENAI EFEKTIFITAS IKLAN TERHADAP CITRA MEREK MASKAPAI GARUDA INDONESIA</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Farida Indriani, Dini Hendiarti</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>Abstract</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Pemberian informasi yang dilakukan melalui iklan dapat merebut dan mempertahankan pangsa pasar dalam kondisi persaingan yang kompetitif seperti saat ini. maka iklannya harus dibuat seefektif mungkin, kreatif, menarik agar merek produk atau jasa dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini diterapkan pada iklan maskapai Garuda Indonesia yang menunjukan adanya masalah efektifitas dalam periklanan yang dilakukan Garuda Indonesia karena ternyata lebih banyak orang yang lebih ingat iklannya dibandingkan mereknya. Selain itu adanya ketimpangan pada minat beli bagi masyarakat Indonesia, bahwa masyarakat masih memilih menggunakan maskapai selain Garuda Indonesia meskipun masyarakat tetap beranggapan bahwa maskapai Garuda Indonesia tetap maskapai yang terbaik. Model penelitian ini menggunakan enam hipotesis yaitu semakin tinggi kreatifitas iklan maka semakin tinggi efektifitas iklan, semakin tinggi kreatifitas iklan maka semakin tinggi daya tarik iklan, semakin tinggi daya tarik iklan maka semakin tinggi efektifitas iklan, semakin tinggi efektifitas iklan maka semakin tinggi citra merek, semakin tinggi efektifitas iklan maka semakin tinggi minat beli, semakin tinggi citra merek maka semakin tinggi minat beli. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah non probability sampling yaitu metode purposive sampling, dimana sampel dipilih dengan syarat-syarat yang dipandang memiliki ciri-ciri esensial yang relevan dengan penelitian. Responden yang digunakan sebanyak 110 responden yaitu pelanggan dan calon pelanggan Maskapai Garuda Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah The Structural Equation Modeling (SEM). Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa model tersebut dapat diterima.</span></span></p>
<ul>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>JURNAL PENELITIAN </strong> <strong>ANALISIS PEMAKAIAN GAYA BAHASA PADA IKLAN </strong> <strong>PRODUK KECANTIKAN PERAWATAN KULIT WAJAH DI TELEVISI</strong></span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>FAKTOR-FAKTOR SISTEM INTERAKSI YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS IKLAN </strong><em><strong>ONLINE </strong></em></span></span></p>
</li>
</ul>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Ilham Aji Pratomo dan Dadan Hardianto </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>Abstrak </strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Penelitian ini mengkhususkan pada efektifitas iklan <em>online </em>dengan memanfaatkan sudut pandang ilmu sistem interaksi atau lazim disebut <em>human-computer interaction</em>. Pendekatan yang dipergunakan dalam pengukuran efektifitas adalah jumlah klik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang berkaitan dengan ilmu sistem interaksi yang mempengaruhi efektifitas tersebut. Metode yang dipergunakan adalah metode kuantitatif dengan populasi civitas akademika Universitas Indonesia. Setelah melakukan penelitian ini, peneliti menemukan bahwa faktor-faktor tersebut berpengaruh besar terhadap efektifitas iklan <em>online </em>sesuai dengan pendekatan jumlah klik yang diterapkan pada penelitian ini</span></span></p>
<ul>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>ANALISIS EFEKTIVITAS IKLAN SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI PEMASARAN PERUSAHAAN PERCETAKAN DAN PENERBITAN PT RAMBANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE EPIC MODEL</strong></span></span></p>
</li>
</ul>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">YUDI FAROLA BRAM</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>ABSTRAK</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>This research entitled Analysis of Commercial Effectiveness as One of Printing and Publishing Company’s Marketing Strategies of of PT Rambang by using EPIC Model Method was aimed at investigating the effectiveness of PT Rambang’s Advertisement by using an analysis based on EPIC Model (Empathy, Persuasion, Impact dan Communication). The Object this research was the customers of PT. Rambang who ever saw, heard, or read PT Rambang’s ads especially those who lived in Palembang city. There were 300 respondents involved in this research The sampling technique used was convinience sampling with survey method. The effectiveness of PT Rambang’s advertisement could be seen from dimensions of Empathy, Persuasion, Impact dan Communication with crossed tabulation analysis and linier regression in which the measuring rod was the selling volume. Reviewed from the EPIC dimensions, it was found that PT Rambang’s ads were effective enough to influence customers living in Palembang city. Among the four dimensions, communication was the most dominant factor which can be seen from figure 4.1.2. (PT Rambang’s EPIC Model Ads on printed media). Based on linier regression analysis, it was found that commercial expenditure had significantly affected the selling volume of PT Rambang. Therefore, it was suggested that the information delivered through advertisements on printed media could give information about the products offered to its customers or prospective customers.</em></span></span></p>
<ul>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN </strong><strong> </strong><strong>KABUPATEN ACEH TENGAH</strong></span></span></p>
</li>
</ul>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Oleh : Ali Murtadha M Arifin</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>ABSTRAKSI</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><em>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tujuan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut.Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah.</em><em> </em><em>Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah)</em><em>.</em></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small"><strong>Conclusion :</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Berdasarkan beberapa referensi mengenai penelitian terhadap tema iklan sudah sanagt sering dilakukan oleh beberapa peneliti khususnya di Indonesia. Sejumlah peneliti biasanya mengulas tentang sudut pandang akan efektivitas atau pengukuran suatu iklan terhadap produk yang diiklankan. Memang pada dasarnya apabila kita melihat bahwa iklan sebagai salah satu aktivitas pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan merupakan suatu pembahasan yang menarik untuk diteliti, terlebih dengan sangat berkembangnya dunia informasi serta teknologi dalam negeri menjadi salah satu alasan pemasar menggunakan iklan sebagai media pemasaran, lain hal juga dikarenakan adanya peningkatan kesadaran konsumen dengan aktivitas pemasaran seperti iklan. Peningkatan ini tidak lepas dari perkembangan industri media yang telah berlangsung sejak dua dekade ini. Tumbuhnya pemancar komersial di segenap penjuru tanah air, masing-masing dengan gaya dan cara pendekatan yang berbeda. Terbitnya puluhan majalah-majalah baru mulai dari yang bersifat umum hingga majalah yang khusus bicara soal rambut, mobil, konstruksi dan komputer. Terbitnya surat kabar yang berdomisili di ibu kota negara, ibu kota propinsi atau ibu kota kabupaten, masing-masing dengan garapan berita yang beda ruang lingkupnya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Selain itu Seiring berkembangnya pendidikan ilmu ekonomi telah banyak memberi dorongan bagi pertumbuhan kualitas perusahaan periklanan di Indonesia. Kehadiran modal asing dan kegiatan memproduksi barang-barang yang berasal dari luar negeri telah menghadirkan kegiatan pemasaran global yang dampaknya sangat menentukan kemampuan para pakar pemasaran di sebuah biro iklan dalam berbicara pada tingkat pengetahuan pemasaran yang bersifat internasional. Adanya pilihan yang diberikan oleh industri media dan tantangan untuk menemukan rancangan media yang efektif dan terjangkau oleh biaya periklanan yang disediakan oleh perusahaan pemakai jasa iklan, serta riset dan penelitian yang dilakukan oleh perusahaan yang khusus bergerak dalam bidang jasa riset telah ikut memberikan masukan yang sangat menunjang kualitas pelayanan jasa perencanaan media. Fakta ini telah memberi warna khusus bagi kegiatan periklanan sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan secara tepat arah dan terukur. Serta sekarang terdapat Istilah ‘Social Marketing’ yang kini menjadi kawasan baru para pakar periklanan yang menerjuni kegiatan periklanan non-komersial yang tidak kurang pentingnya bagi Indonesia dewasa ini. Ada yang terlibat dalam kegiatan menunjang marketing produk-produk yang distribusinya sangat terbatas, akan tetapi ada yang terlibat dengan kegiatan marketing produk yang tersebar luas dan dikonsumsi oleh orang yang lebih banyak. Oleh sebab itu penenlitian tentang media iklan menjadi salah satu alternatif bagi perusahaan atau masyarakat tentang pengungkapan beberapa hala yang berkaitan dengan perusahaan maupun masyarakat sebagai konsumen.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Penulis : <a href="http://tomassetya.ub.ac.id" >Tomas Setya Wahyu B</a></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Dosen : <a href="http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id" >Nanang Suryadi, S.E, M.M</a></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Daftar Pustaka :</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><a href="http://blog.ub.ac.id/markom%20bahan/STUDI%20MENGENAI%20EFEKTIFITAS%20IKLAN%20TERHADAP%20CITRA%20MEREK%20MASKAPAI%20GARUDA%20INDONESIA%20_%20Indriani%20_%20JURNAL%20SAINS%20PEMASARAN%20INDONESIA.mht"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">file://localhost/I:/markom%20bahan/STUDI%20MENGENAI%20EFEKTIFITAS%20IKLAN%20TERHADAP%20CITRA%20MEREK%20MASKAPAI%20GARUDA%20INDONESIA%20_%20Indriani%20_%20JURNAL%20SAINS%20PEMASARAN%20INDONESIA.mht</span></span></a></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><a href="http://blog.ub.ac.id/markom%20bahan/makalah%20dan%20skripsi_%20DEFINISI%20PERIKLANAN.mht"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">file://localhost/I:/markom%20bahan/makalah%20dan%20skripsi_%20DEFINISI%20PERIKLANAN.mht</span></span></a></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Pelaksanaan Trust Based Relationship Pada Cafe Auto Mobil Lamborghini, Jakarta (2000) &#8211; 8071</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Analisis Hubungan Antara Kepercayaan Terhadap Wiraniaga Dengan Keputusan Pembelian Konsumen Pada PT. Seri Jaya Maju gemilang (2000) &#8211; 8075</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Kebijakan Pengemasan Minyak Pelumas Mesran Super Di Pertamina (2000) &#8211; 9002</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Pelaksanaan Keputusan Utama Pemasaran Internasional Pada PT. Adetex Dalam Memasarkan Produk Tekstil Ke Jepang (2000) &#8211; 9003</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Analisis Persepsi Konsumen Terhadap Bonus Dalam kemasan (2001) &#8211; 8076</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Analisis Faktor-Faktor Yang Menggerakkan Konsumen Untuk Mengunjungi Situs Web Indosatnet Pada PT. Indosat Di jakarta (2000) &#8211; 8021</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Pelaksanaan Pengembangan Jasa Homecare Pada Rumah Sakit Islam Jakarta Timur (2001) &#8211; 8024</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline"><span style="font-family: 'Times New Roman', serif"><span style="font-size: small">Faktor-Faktor Yang Membangun Relationship Marketing Melalui Complain Handling Pada Auto 2000 Cabang Pluit (2000) &#8211; 8022</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/tomassetya/2012/04/08/journal-of-advertising-research/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAS unik dan keren. cocok untuk kado!</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/04/01/tas-unik/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/04/01/tas-unik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 04:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>leila melati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[canvas]]></category>
		<category><![CDATA[kado tas]]></category>
		<category><![CDATA[Mileina shop]]></category>
		<category><![CDATA[tas canvas]]></category>
		<category><![CDATA[tas etnik]]></category>
		<category><![CDATA[tas kain]]></category>
		<category><![CDATA[tas keren]]></category>
		<category><![CDATA[tas unik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/coretanela/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Beragam jenis tas yang sering ditemui. bosan dengan yang itu    itu saja? Tas etnik yang unik banget   Desain lainnya, cek Lemari tas kita: FB MileinaShop FanPage MileinaShop Website MileinaShop Pin BB by request &#160; RESELLER WELCOME [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-41 alignleft" src="http://blog.ub.ac.id/coretanela/files/2012/04/blogUB.jpg" alt="" width="365" height="419" /></p>
<p>Beragam jenis tas yang sering ditemui. bosan dengan yang itu    itu saja?</p>
<p>Tas etnik yang unik banget <img src='http://blog.ub.ac.id/coretanela/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>  Desain lainnya, cek Lemari tas kita:</strong></p>
<p>FB <a title="MileinaShop" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100003681344119">MileinaShop</a></p>
<p>FanPage <a href="http://www.facebook.com/MileinaShop">MileinaShop</a></p>
<p>Website <a href="http://www.lemari4tas.web.id">MileinaShop</a></p>
<p>Pin BB by request</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>RESELLER WELCOME <img src='http://blog.ub.ac.id/coretanela/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/04/01/tas-unik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Promosi Indonesia : Promo Indonesia</title>
		<link>http://marcom.lecture.ub.ac.id/2012/03/promosi-indonesia-promo-indonesia/</link>
		<comments>http://marcom.lecture.ub.ac.id/2012/03/promosi-indonesia-promo-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 09:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurus SEO]]></category>
		<category><![CDATA[Kontes SEO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marcom.lecture.ub.ac.id/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[ Promosi Indonesia : Promo Indonesia <p>SEO CONTEST 2012 “PROMO INDONESIA” to promote Indonesia Local Genius. Promosi dengan cara mengoptimasi pencarian di search engine di google dan yahoo menjadi semacam trend. Saya coba mengikuti dua kontes SEO yaitu:  Informasi Kredit Terbaik di Indonesia dan satu kontes dari alfamart dengan judul artikel,  Promo Indonesia : Promo Member Alfamart Minimarket Lokal Terbaik Indonesia  . [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h1>Promosi Indonesia : Promo Indonesia</h1>
</div>
<div>
<p><strong>SEO CONTEST 2012 “PROMO INDONESIA”</strong> to promote Indonesia Local Genius. Promosi dengan cara mengoptimasi pencarian di search engine di <a href="http://google.com/">google</a> dan yahoo menjadi semacam trend. Saya coba mengikuti dua kontes SEO yaitu: <strong> <a title="Informasi Kredit Terbaik di Indonesia" href="http://nanangsuryadi.web.id/informasi_kredit_terbaik_di_indonesia/" target="_blank">Informasi Kredit Terbaik di Indonesia</a></strong> dan satu kontes dari alfamart dengan judul artikel, <strong> <a title="Promo Indonesia : Promo Member Alfamart Minimarket Lokal Terbaik Indonesia" href="http://nanangsuryadi.web.id/lomba-seo-promo-member-alfamart/">Promo Indonesia : Promo Member Alfamart Minimarket Lokal Terbaik Indonesia</a> </strong> . Sila dibacklink ya. Jangan lupa kunjungi terus blog <a title="nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id" href="http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id/" target="_blank">http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Related Post</strong></p>
<div>
<ul>
<li><a href="http://nanangsuryadi.web.id/lomba-seo-promo-member-alfamart/" rel="bookmark">Promo Member Alfamart Minimarket Lokal Terbaik Indonesia</a></li>
<li><a href="http://nanangsuryadi.web.id/promo-indonesia-member-alfamart-minimarket-lokal-terbaik/" rel="bookmark">Promo Indonesia: Member Alfamart Minimarket Lokal Terbaik</a></li>
</ul>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marcom.lecture.ub.ac.id/2012/03/promosi-indonesia-promo-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KREDIBILITAS ENDORSER</title>
		<link>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/03/27/kredibilitas-endorser/</link>
		<comments>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/03/27/kredibilitas-endorser/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 07:48:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>leila melati</dc:creator>
				<category><![CDATA[credibility endorser]]></category>
		<category><![CDATA[endorser]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[iklan promag]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[marketing communication]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ub.ac.id/coretanela/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Bagi perusahaan, Endorser sangat dibutuhkan untuk mempromosikan suatu produknya. Endorser bisa dalam bentuk apa saja, dan yang paling sering dijadikan objek untuk endorser adalah selebriti. Pengertian  Endorser sendiri menurut Terence Shimp yaitu  ”endorser adalah pendukung iklan atau yang dikenal juga sebagai bintang iklan dalam mendukung iklan pro dukungan” Dalam buku, terdapat 2 konsep yang dapat [...] [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi perusahaan, Endorser sangat dibutuhkan untuk mempromosikan suatu produknya. Endorser bisa dalam bentuk apa saja, dan yang paling sering dijadikan objek untuk endorser adalah selebriti.</p>
<p>Pengertian  Endorser sendiri menurut Terence Shimp yaitu</p>
<p style="text-align: center"><strong> ”<em>endorser</em> adalah pendukung iklan atau yang dikenal juga sebagai bintang iklan dalam mendukung iklan pro dukungan”</strong></p>
<p>Dalam buku, terdapat 2 konsep yang dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena <em>celebrity endorser. </em>Yaitu:</p>
<ol>
<li>Model <em>the sorce credibility </em>yang dipelopori oleh periset komunikasi klasik Carl Hovland dan Walter Weiss (1950-an), hovland dan Weiss percaya efektivitas suatu iklan ditentukan oleh kredibilitas yang dimiliki oleh si endorser. Kredibilitas itu ditentukan oleh <em>expertness </em>(keahlian) dan <em>trustworthiness </em>(dapat dipercaya/kejujuran) yang idsandang oleh endorser tersebut. Menurut mereka, tanpa kedua hal tersebut tampaknya akan sangat sulit bagi konsumen untuk menerima pesan-pesan yang disampaikan. Penganut konsep ini banyak, karena terlihat banyaknya produsen yang hanya mau merekrut bintang yang memiliki kedua karakter tersebut. Begitu seorang bintang tersandung suatu peristiwa dan kredibilitasnya jatuh, ia tidak digunakan.</li>
<li>Model kedua adalah <em>the source attractiveness model. </em>Konsep ini diperkenalkan oleh Wiliam J. McGuire (1985). Beliau percaya bahwa daya tarik (fisik maupun non fisik) seorang selebriti akan mempengaruhi efektivitasnya sebagai endoser. Ada tiga variabel yang mewakili daya tarik ini, yaitu <em>familiarity </em>(cukup dikenal, cukup familiar), <em>likability</em> (wajah/penampilan menarik secara afeksi atau emosional), <em>similarity </em>(kesamaan demografi antara endorser dengan audience)</li>
</ol>
<div>Dalam jurnal Methaq Ahmed yang berjudul &#8220;An investigate of endorser credibility effect on consumer&#8217;s attitude and purchase intention. The role of brand familiarity&#8221; dapat ditarik kesimpulan bahwa:</div>
<div></div>
<div style="text-align: center"><strong><em>&#8220;Credibility is based on long-term marketing strategies that needs time to be built and to be nurtured points to the more appropriately used longitudinal approach study in order to cope with the long-time nature of the marketing strategies&#8221;</em></strong></div>
<div></div>
<div>Kredibilitas didasari oleh strategi marketing jangka panjang, membutuhkan waktu untuk membangunnya.</div>
<p>Dari pengertian diatas dapat diambil contoh untuk Kredibilitas Endorser. Saaya mengambil contoh iklan Promag dan iklan</p>
<p><strong>Iklan yang Kredibel</strong></p>
<p><strong> <p><a href="http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/03/27/kredibilitas-endorser/"><em>Click here to view the embedded video.</em></a></p></strong></p>
<p>Produk Promag merupakan salah satu contoh iklan yang memiliki endorser yang kredibel. Hal ini dapat dilihat dari <em>message</em>(pesan) dan tone yang ingin ditekankan dalam iklannya. Promag sangat setia menggunakan Dedy Mizwar sebagai endorsernya. Pesang yang ditampilkan oleh sosok Dedy Mizwar adalah pribadi yang arif serta dekat dengan karakter yang bernuansa agamis, mengingat iklan promag akan intens ditampilkan pada bulan ramadhan. Karena itulah, sosok Dedy Mizwar cocok dengan karakter merek serta manfaat produk. Manfaat promag dengan menjawab permasalah konsumen, selain sebagai <em>problem remova </em>tapi juga sebagai <em>problem avoidance</em>. Promag sekaligus menampilkan hubungan antara konsumen dengan merek produknya.</p>
<p>I<strong>klan yang tidak Kredibel</strong></p>
<p><a href="http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/03/27/kredibilitas-endorser/"><em>Click here to view the embedded video.</em></a></p>
<p>iklan Indovision yang menampilkan keluarga menangis karena merasa menyesal tidak sejak dahulu mereka berlangganan TV Kabel Indovision. Endorser yang dipakai merupakan orang yang tidak begitu dikenal oleh masyarakat luas. pesan yang disampaikan pun terasa sangat berlebihan sehingga tidak terjadin penyampaian yang diterima oleh konsumen itu sendiri.</p>
<p>__________________________________________________________________</p>
<p>Matakuliah <a href="http://marcom.lecture.ub.ac.id/">Marketing Communication</a></p>
<p>Nama : Leila Melati M (0910220127)</p>
<p>Dosen : Bapak <a href="http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id/">Nanang Suryadi, SE, MM</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>SOURCES :</p>
<p>Rhenald Kasali dalam bukunya Membidik Pasar Indonesia: <em>Segmentasi, targeting dan positioning. </em>penerbit Gramedia Pustaka Utama</p>
<p>Terence Shimp dalam bukunya KONSEP, APLIKASI, DAN LINGKUNGAN DARI KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU</p>
<p>Jurnal Methaq Ahmed yang berjudul &#8220;An investigate of endorser credibility effect on consumer&#8217;s attitude and purchase intention. The role of brand familiarity</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ub.ac.id/coretanela/2012/03/27/kredibilitas-endorser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

